Senin, 24 Desember 2012

Bagaimana Kalau

Taufiq Ismail


Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam,
tapi buah alpukat,
Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat,
Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah,
dan kepada Koes Plus kita beri mandat,
Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi,
dan ibukota Indonesia Monaco,
Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas,
salju turun di Gunung Sahari,
Bagaimana kalau bisa dibuktikan bahwa Ali Murtopo, Ali Sadikin
dan Ali Wardhana ternyata pengarang-pengarang lagu pop,
Bagaimana kalau hutang-hutang Indonesia
dibayar dengan pementasan Rendra,
Bagaimana kalau segala yang kita angankan terjadi,
dan segala yang terjadi pernah kita rancangkan,
Bagaimana kalau akustik dunia jadi sedemikian sempurnanya sehingga di
kamar tidur kau dengar deru bom Vietnam, gemersik sejuta kaki
pengungsi, gemuruh banjir dan gempa bumi sera suara-suara
percintaan anak muda, juga bunyi industri presisi dan
margasatwa Afrika,
Bagaimana kalau pemerintah diizinkan protes dan rakyat kecil
mempertimbangkan protes itu,
Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini dan kita
pelihara ternak sebagai pengganti
Bagaimana kalau sampai waktunya
kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi.


1971 

DOA

Taufiq Ismail

Tuhan kami
Telah nista kami dalam dosa bersama
Bertahun-tahun membangun kultus ini
Dalam pikiran yang ganda
Dan menutupi hati nurani

Ampunilah kami
Ampunilah
Amin

Tuhan kami
Telah terlalu mudah kami
Menggunakan AsmaMu
Bertahun di negeri ini
Semoga Kau rela menerima kembali
Kami dalam barisanMu

Ampunilah kami
Ampunilah
Amin

1966

IKAT


Hadir, kau mengantarkan seikat lara dan sepotong luka
Memadukannya dalam batin yang tersiksa

Buah Batu, 22 Mei 2012

Kamis, 20 Desember 2012

Kemarau Desember

Bulan apa ini, yang bisa dengan sekejap memusnahkan asa dalam jiwa. Menorehkan tambahan luka yang telah berderet. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku.
Mungkin ini kebiasaan buruk yang telah mendarah daging. Menyakiti orang-orang terdekat karena keegoisan diri. Entah karena ketidakbecusan diriku dalam bersosialisasi hingga tidak bisa mengartikan apa yang mereka butuhkan dan kehendaki..

Cinta Yang Mana Yang Kaumaksud?

Bismillahirrahmanirrahim

Apakah kamu yang tersesat?
ataukah aku yang keliru mengambil arah?
Bahkan di persimpangan pun, kita tidak juga bertemu
-Andrei Aksana-


Menanti pasangan hidup layaknya menanti hari kiamat. Kedatangannya pasti namun entah kapan datangnya. Masih merupakan misteri. Mungkin hal itu juga yang menyebabkan pembahasan mengenai cinta ini tidak akan pernah selesai. Manusia akan selalu tertarik membahas hal-hal ghaib atau hal-hal yang tidak diketahui secara pasti.



Kebanyakan manusia pada saat ini terjebak dengan definisi cinta. Ketika membicarakan cinta, bagi mereka identik dengan pasangan hidup. Bahkan ada yang langsung berpikir mengenai pacaran. Sesungguhnya arti cinta saat ini sudah begitu sempit. Cinta yang hakiki tentu hanya pada Allah, selain cinta kepada-Nya atau cinta yang disebabkan karena-Nya maka menjadi haram hukumnya. Mencintai seseorang karena hartanya, fisiknya atau keturunannya tanpa melihat agamanya tentu tidak diperkenankan. Mencintai manusia hendaklah karena agamanya. Sejauh mana pemahaman dan praktiknya dalam kehidupan.
Cinta menjadi haram jika tidak dilandasi cinta kepada Allah. Mencintai dan membenci karena-Nya sebagaimana dalam hadist Rasulullah saw. Lalu bagaimana dengan fenomena pacaran pada saat ini?
Ini tentu berlawanan dengan aturan agama Islam. Pacaran menyebabkan banyak pemuda-pemudi Islam terlena dengan kehidupan dunia. Lupa menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Terjebak dengan keindahan duniawi yang fana. Pemuda-pemudi berbondong-bondong mencari pacar karena tidak ingin dianggap tindak laku atau tidak gau. Sungguh menakutkan.
Mereka yang berpacaran mengatasnamakan perbuatannya dengan kata cinta. Sungguh, cinta tidak sesederhana itu. Cinta yang seharusnya tentu begitu agung. Hingga salah seorang pujangga berkata "Cinta suci tidak akan tumbuh dalam diri manusia yang kotor".

Kualitas yang terpenting bukan pada orang yang kau harapkan menjadi belahan jiwamu, tapi padamu yang akan jatuh cinta kepadanya. 
Jika engkau tidak membeningkan hati, tidak menjernihkan pikiran, dan tidak mengindahkan perilakumu; engkau akan mudah jatuh cinta kepada pribadi yang akan mengecewakanmu. 
Belahan jiwamu hanya seindah jiwamu. 
-Mario Teguh-

Senin, 17 Desember 2012

Kaum MUslimin Mempunyai Sikap Pertengahan dalam Setiap Urusan

Ini adalah tafsir Al-Maraghi ayat 143, namun belum tuntas

Sebelum lahirnya Islam, umat manusia terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, Ialah orang-orang yang selalu cenderung pada kepentingan dunia dan kebutuhan jasmaniah, seperti kaum Yahudi dan musyrikin. Kedua, ialah orang-orang yang mengekang atau membelenggu diri dengan adat kebiasaan dan kepentingan ruhaniah secara total, sehingga sama sekali meningggalkan hal-hal yang bersifat duniawiyah, termasuk kebutuhan jasmaniah mereka. Di antara mereka adalah kaum Nashrani dan Shabi'in, disamping beberapa pengikut sekte agama Hindu penyembah berhala, yakni kelompok yang populer dengan olahraga yoga.

Kemudian, lahirlah Islam yang berupaya memadu antara dua kebutuhan tersebut, yakni kebutuhan ruhaniyah dan duniawiyah (jasmaniyah), disamping memberikan hak-hak secara manusiawi, Islam berpandangan bahwa manusia itu terdiri dari ruh dan jasmani. Atau, jika anda suka, katakanlah bahwa manusia terdiri dari unsur "hewan" dan "malaikat". Jadi, agar seseorang menjadi manusia dalam pengertian yang sempurna, maka harus memenuhi dua kebutuhan tersebut secara seimbang dan terpadu.

Minggu, 09 Desember 2012

Hari Anti Korupsi Sedunia

Bismillahirrahmanirrahim
Selamat hari anti korupsi sedunia!. Semoga bukan sekedar ucapan ya, hingga bangsa Indonesia bisa terlepas dari korupsi.
Korupsi bagai monster yang selalu menakutkan di seluruh dunia. Terbukti, di negara China warga yang ketahuan melakukan korupsi akan dihukum mati. Tindakan seperti itu tentu tidak terlepas dari rasa takut bangsa China akan korupsi yang merajalela. Bahkan ada satu ungkapan yang mengatakan "Lebih baik jadi orang miskin, tidak ada ladang untuk korupsi daripada menjadi orang kaya atau pejabat yang ladang korupsinya ada dimana-mana". Ungkapan satir yang bisa diambil hikmahnya.
Kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang kaya atau berkuasa akan lebih menakutkan dibanding kejahatan yang dilakukan orang tidak mampu. Logikanya, orang-orang kaya dan berkuasa bisa melakukan kejahatan tingka internasional yang salah satunya korupsi. Orang tidak mampu sekejam-kejamnya, hanya akan melakukan pencurian, pembunuhan beberapa orang saja, penipuan, dll. Namun, bukan berarti hal itu dibolehkan yah, tentu saja tidak boleh. Jika orang-orang kaya atau penguasa yang berbuat kejahatan misalnya korupsi, ia bisa membunuh atau bahkan menyengsarakan ribuan orang sekaligus. tentu lebih menyeramkan bukan?
Untuk Anda para pelajar atau mahasiswa yang tengah atau akan menghadapi UAS sebaiknya berhati-hati. Korupsi dimulai dari hal-hal kecil yang kadang tidak terasa. Perbuatan menyontek itu salah satu penyebab tidak bisa terlepasnya bangsa Indonesia dari korupsi. Jika seseorang telah biasa melakukan perbuatan tersebut, ia akan terus melakukannya hingga dewasa. Menyontek itu dilakukan karena ingin mendapat nilai bagus tapi dengan jalan pintas. Begitupun dengan korupsi. Para pejabat itu korupsi karena ingin kaya, mengganti uang kampanye nya yang terbuang sangat banyak. Ingin balik modal dengan cara pintas yang sesat.
Jangan sampai Anda yang mengaku pelajar atau mahasiswa masih menyontek. Mengaku anti terhadap orang yang korupsi tapi masih saja menyontek saat UTS atau UAS. Sangat tidak wajar. Jika sistem pendidikan yang disalahkan saya rasa tidak adil. Tidak ada yang perlu disalahkan, seharusnya ada pembenahan dalam dunia pendidikan dan pada masyarakat Indonesia. Selayaknya hal tersebut dilakukan bersama, tidak berjalan sendiri-sendiri.
Jadi, dalam rangka Hari Anti korupsi sedunia juga bagi Anda yang akan menghadapi UAS mari mencegah korupsi dari hal-hal kecil di sekitar kita. Ingin bangsa Indonesia terbebas dari korupsi kan?. Mulailah dari SEKARANG JUGA :)

~* Jodohku Yang Kufu` *~

Mendapat ilmu yang bermanfaat lagi. Ini adalah sebuah artikel yang saya dapat dari akun facebook seorang teman.

Jodoh yang telah Allah tentukan adalah mereka yang kufu` (setara/sederajat). Kufu` dalam hal apa? Materi (kekayaan)? Kedudukan (status sosial)? Tingkat pendidikan? Atau pekerjaan? Bukan, bukan,bukan..

Kufu` (kesetaraan) dalam perjodohan tidak bisa diukur dari segala bentuk yang bersifat duniawi. Memilih pasangan yang kufu` dalam bentuk duniawi, tidak ada dasar hukumnya. Tidak dilarang, juga tidak diharuskan. Artinya tidak ada aturan syar’i yang menetapkannya. Meskipun hal itu sering dijadikan bahan pertimbangan, oleh kebanyakan orangtua yang akan menikahkan anaknya. Atau mungkin juga kita yang tanpa sadar menetapkan kriteria duniawi tertentu.

Namun kufu` dalam perjodohan, sebagaimana yang dipaparkan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma‘ad (4/22), "yang teranggap dalam kafa`ah adalah dalam perkara agamanya (kadar keimanan)". Beliau juga memaparkan beberapa ayat Qur`an dan hadits,

"Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kalian bersuku-suku dan berkabilah-kabilah agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS Al Hujurat, 49 : 13)

"Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mu`min." (QS An Nuur, 24 : 3)

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)..." (QS An Nuur, 24 : 26)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Bani Bayadhah, "Nikahkanlah wanita kalian dengan Abu Hindun!". Maka merekapun menikahkannya sementara Abu Hindun ini profesinya sebagai tukang bekam.

Rasulullah sendiri pernah menikahkan Zainab binti Jahsyin Al Qurasyiyyah, seorang wanita bangsawan, dengan Zaid bin Haritsah bekas budak beliau. Dan menikahkan Fathimah binti Qais Al Fihriyyah dengan Usamah bin Zaid, juga menikahkan Bilal bin Rabah dengan saudara perempuan Abdurrahman bin `Auf.

Jadi bisa kita fahami bahwa penetapan Al Qur`an dan As Sunnah tidak menganggap dalam kafa`ah kecuali perkara agama (kadar keimanan), adapun perkara nasab (keturunan), profesi dan kekayaan tidaklah teranggap. Karena itu boleh seorang budak menikahi wanita merdeka dari turunan bangsawan yang kaya raya apabila memang budak itu seorang yang 'afif (menjaga kehormatan dirinya) dan muslim. Dan boleh pula wanita Quraisy menikah dengan laki-laki selain suku Quraisy, wanita dari Bani Hasyim boleh menikah dengan laki-laki selain dari Bani Hasyim. (Zaadul Ma‘ad, 4/22)

Tapi tak jarang kita pun mendapati pasangan yang sudah menikah namun tidak se-kufu` (menurut kita). Ada seorang istri shalihah, yang menangis-nangis memohon hidayah untuk suaminya yang durjana. Ada pula seorang suami shalih, yang selalu shabar membimbing istrinya yang suka membangkang padanya. Apa itu juga kufu`?

Tentu tidak kufu`, menurut pandangan kita. Tetapi dalam pandangan Allah, ada hal lain yang Allah nilai se-kufu` diantara mereka. Dan Allah lah yang lebih tahu, siapa yang kufu` dengan siapa. Atau Allah telah merencanakan agar mereka nanti menjadi kufu`.

Karena Allah Maha Tahu bahwa hanya istri shalihah itulah yang mampu menghadapi suami seperti itu, begitupun halnya dengan suami yang shalih tadi, hanya dia yang Allah anggap mampu menghadapi istri seperti itu. Allah lebih tahu siapa yang baik bagi siapa. Sehingga dengan ke-kufu-an yang tidak kita sadari itu, akan timbullah berbagai kebaikan yang telah Allah persiapkan.

Tetapi..bukan berarti kita pasrah begitu saja, karena kita pun dituntut untuk berikhtiar. Bukankah kita menginginkan jodoh/pasangan yang baik? Dan kita semua menyadari bukan, sebaik apa sih diri kita sebenarnya? Apa kita cukup baik untuk mendapatkan pasangan yang baik pula? Maka berikhtiarlah untuk memperbaiki diri (semata-mata karena Allah), agar kita layak mendapat pasangan yang baik menurut pandangan Allah. Insya Allah..

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS An Nuur, 24 : 26)

Tetap semangat berikhtiar, karena Allah akan menilai sekecil apapun ikhtiar kita.
Semoga bermanfa’at..
Barakallahu fiikum..

HAKI dan Penerbitan Buku Bajakan

Bismillahirrahmanirrahim

Teringat perkataan seorang dosen tentang HAKI (Hak Atas Kepemilikan Intelektual). Beliau berpesan agar semua mahasiswanya tidak lupa mencantumkan sumber tulisan-tulisan ilmiahnya. Pengetahuan yang dimiliki seseorang tentu bukan hasil yang bisa diperoleh tanpa proses, tentu perlu jerih payah untuk mendapatkannya.      Oleh karena itu, sudah selayaknya kita menghargai jerih payah mereka. Tidak sulit bukan jika kita menuliskan sumber karya kita di daftar pustaka?. Sangat mudah dibanding bagaimana cara memperolehnya.

Ada satu lagi nasehat dari dosen yang tidak bisa dilupakan. Masih mengenai penghargaan terhadap intelektual seseorang. Jangan sampai membeli buku palsu alias buku bajakan. Menulis buku itu sulit, butuh modal banyak. Sang penulis tentu butuh referensi buku, dia butuh modal untuk itu. Penulis juga harus melakukan proses panjang dalam menulis buku. Tidak sama dengan cerita pendek yang bisa dikerjakan dalam beberapa hari. Menulis buku bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan. Setelah bersusah payah dalam menulis buku, buku yang mereka tulis malah dibajak. Padahal, menurut seorang dosen loyalti untuk penulis dari sebuah buku berkisar 5-15 % saja. Bayangkan jika banyak orang yang membajak bukunya. Bukunya memang menjadi terkenal, namun pemasukan mereka minim.
Kebiasaan tersebut jika terus dibiarkan bisa membuat para penulis enggan menulis buku lagi, kecuali mereka yang ikhlas dan tidak mengharapkan royalty. Yang menyeramkan bila tidak ada lagi penulis yang hendak menulis buku. Tingkat membaca bangsa Indonesia pada saat ini saja sudah rendah, apalagi jika minim penulis yang menerbitkan buku.

Jadi, mulailah untuk menghargai karya orang lain, bisa saja menurut kita karya itu mudah dibuat. Namun, saya rasa setiap orang pasti mengalami kendala sekecil apapun dalam pembuatan karya tulis.