Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Mei 2014

Reminder For Myself

Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan walaupun dia adalah pihak benar, niscaya Allah gantikan untuknya sebuah rumah di tepi surga. Allah selamatkan dia dari segala pertikaian, terpelihara kebersihan hatinya dan ditutup segala aibnya.
Barangsiapa yang meninggalkan al-Isyq atau perasaan cinta yang terlarang, memutuskan semua sebab-sebab yang dapat membawanya kepada cinta tersebut, dan memboikot dirinya agar tidak terjerumus kedalamnya seraya mengharap wajah Allah dengan sepenuh jiwanya, niscaya Allah akan memberikannya rizki berupa kedamaian jiwa dan kemuliaanya, Allah selamatkan dirinya dari segala bentuk kesusahan, memenuhi hati nya dengan rasa mahabbah hanya kepada Allah semata.
Barangsiapa yang meninggalkan membalas dendam dalam keadaan dia mampu untuk melakukannya, maka Allah akan gantikan untuknya kelapangan dada dan kedamaian dalam hati. Karena sesungguhnya dalam pemberian maaf ada kedamaian , ketenangan, kesenangan yang hakiki dan kemulian diri, yang kesemuanya tidak akan didapatkan dari membalas dendam

-muslimah.or.id

Jumat, 01 Juni 2012

Fenomena Korean Wave di Indonesia

Bismillah
Ketika di Indonesia terjadi berbagai krisis; ekonomi, teladan, moral, jati diri dst. Salah satunya yang menarik perhatian saya adalah krisis teladan, padahal sudah jelas dalam ayat Al-Qur'an bahwa dalam diri Rasulullah itu terdapat keteladanan, Rasulullah Saw itu adalah uswatun hasanah yang harus dijadikan teladan oleh ummat Islam. Rasulullah bersabda dalam sebuah hadist, potongan matan hadist adalah anta ma'a man ahbabta.
Anta ma'a man ahbabta (kamu akan bersama orang yang kamu cintai)
Ketika ada ummat Islam yang mencintai orang-orang kafir; Super Junior, Shinee, dll. Maka secara tidak langsung orang tersebut akan mengikuti yang dicintainya. Dengan kata lain karena orang kafir pasti masuk neraka begitupun dengan yang mencintainya.
Maka cintailah Allah, Rasulullah, para keluarganya, sahabatnya, tabi'in, tabi'ut tabi'in dan sekalian orang shalehnya agar kita bisa masuk syurga tentu saja dengan meneladani mereka..
walahu 'alam

Rabu, 15 Februari 2012

Bidadari Itu Dibawa JIbril Part 2

Kita lanjut yaa ceritanya..

Sudah lama aku tidak mendengar kabar mereka, Mas Danu dan Hindun, Dulu sering aku menerima telepon mereka. Sekedar silaturahmi. Saling bertanya kabar. Tapi kemudian lama mereka tidak menelepon. Aku sendiri pernah beberapa kali menelepon ke rumah mereka, tapi selalu kalau tidak terdengar nada sibuk, ya tidak ada yang mengangkat. Karena itu ketika Mas Danu tiba-tiba menelepon, aku seperti mendapat kejutan yang menggembirakan. Lama sekali kami berbincang-bincang di telepon, melepas kerinduan.
Setelah saling tanya kabar masing-masing, Mas Danu bilangm "Mas, sampeyan sudah dengar belum, Hindun sekarang punya syeikh baru lho?"
"Syeikh baru?" tanyaku. Mas danu memang senang berkelakar.
"Ya, syeikh baru. tahu, siapa? Sampeyan pasti nggak percaya/"
"Siapa, Mas?" tanyaku benar-benar pingin tahu.
"Jibril, Mas. Malaikat Jibril!"
"Jibril?" Aku tak bisa menahan ketawaku. Kadang-kadang sahabatku ini memang sulit dibedakan apakah sedang bercanda atau tidak.
"Jangan ketawa! Ini serius!"
"Wah. Katanya, bagaimana rupanya?" Aku masih kurang percaya.
"Dia tidak cerita rupanya, tapi katanya, Jibril itu humoris seperti sampeyan/"
Saya ngakak. Tapi di seberang sana Mas Danu kelihatannya benar-benar serius; jadi kutahan-tahan juga tawaku. "Bagaimana ceritanya, Mas?"
"Ya, mula-mula dia ikut grup pengajian. Kan di tempat kami sekarang lagi musim grup-grup pengajian. Ada pengajian eksekutif; pengajian seniman; pengajian pensiunan; dan pengajian entah apa lagi. Nah, lama-lama gurunya itu di datangi malaikat Jibril dan sekarang malaikat Jibril itulah yang langsung mengajarkan ajaran-ajaran dari langit. Sedangkan gurunya itu hanya di pinjam mulutnya/"
"Bagaimana mereka tahu kalau yang datang itu malaikat Jibril?"
"Lho, malaikat Jibril-nya sendiri yang mengatakan. Kepada jemaahnya, gurunya itu, maksud saya malaikat Jibril itu, menunjukkan bukti berupa fenomena-fenomena alam yang ajaib yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia."
"Ya, tapi jin dan syetan kan bisa melakukan hal seperti itu, Mas!" aku menyela. "Kan ada cerita dulu Syeikh Abdul Qadir Jailani, sufi yang termasyhur itu, pernah di goda Iblis yang menyamar menjadi Tuhan berbentuk cahaya yang terang benderang. Konon sebelumnya, Iblis sudah berhasil menjerumuskan 40 sufi dengan cara itu. Tapi karena keimanannya yang tebal, Syeikh Abdul Qadir Jailani bisa mengenalinya dan mengusirnya."
"Tak tahulah, Mas. Yang jelas jamaahnya banyak orang-orang pinternya lho."
"Wah."
Ketika percakapan akhirnya disudahi dengan janji dari Mas Danu bahwa dia akan terus menelepon bila sempat, aku masih tertegun. Aku membayangkan sang bidadari bertangan besi yang begitu tegar ingin memurnikan agama itu kini "hanya" menjadi pengikut sebuah aliran yang menurut banyak orang tidak rasional dan bahkan berbau klenik. Allah Maha Kuasa! Dialan yang kuasa menggerakkan hati dan pikiran orang.

Beberapa minggu kemudian aku mendapat telepon lagi dari sahabatku, Mas Danu. Kali ini dia bercerita tentang isterinya dengan nada seperti khawatir.
"Wah, Mas, Hindun baru saja membakar diri."
"Apa, Mas?" Aku terkejut setengah mati. "Membakar diri bagaimana?"
"Gurunya yang mengaku titisan Jibril itu mengajak jamaahnya untuk membersihkan diri dari kekotoran-kekotoran dosa, Mereka menyiram diri mereka dengan spirtus, kemudian membakarnya."
"Hei!" Aku ternganga. Dalam hati aku khawatir juga. Soalnya aku pernah mendengar, di luar negeri pernah terjadi jamaah di ajak guru mereka bunuh diri."
"Yang lucu, Mas," suara Mas Danu terdengar lagi melanjutkan, "gurunya itulah yang paling banyak terbakar bagian tubuhnya. Berarti kan dia yang paling banyak dosanya ya, Mas?"
Aku mengangguk, lupa bahwa kami sedang bicara via telepon.
"Doakan sajalah, Mas!" kata sahabatku di seberang menutup pembicaraan.
Beberapa hari kemudian Mas Danu menelepon lagi, menceritakan bahwa istrinya kini jarang pulang. Katanya ada tugas dari Syeikh Jibril yang mengharuskan jamaahnya berkumpul di suatu tempat. Tugas berat tapi suci. Memperbaiki dunia yang sudah rusak ini.
"Pernah pulang sebentar, Mas," kata Mas Danu di telepon, "dan sampeyan tahu apa yang dibawanya? Dia pulang sambil memeluk anjing. Entah dapat dari mana."

Setelah itu Mas Danu tidak pernah menelepon lagi. Aku mencoba menghubunginya dan tidak pernah berhasil. Baru hari ini, tak ada hujan tak ada angin, aku menerima pesan di HP-ku, SMS, isinya singkat. "Mas, Hindun sekarang sudah keluar dari ISlam. Dia sudah tak berjilbab, tak salat, tak puasa. (Danu)"
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mas Danu saat menulis SMS itu. Aku sendiri yang menerima pesan itu tidak bisa menggambarkan perasaanku sendiri. Hanya dari mulutku meluncur saja ucapan masya Allah.

Selesai...



Subhanallah. Apa Anda mendapat pengalaman berharga setelah membaca cerpen ini?
Yang menurut saya paling berharga dari cerita ini, bahwa kita harus hati-hati terhadap berbagai bentuk penyelewengan yang terjadi di masyarakat. Komunikasi dengan keluarga pun sangat dibutuhkan.. Jadi berhati-hatilah ^_^

Bidadari Itu Dibawa Jibril Part 1

Ini adalah cerita pendek karangan A. Mustofa Bisri. Silahkan dibaca ^_^

Sebelum jilbab populer seperti sekarang ini, Hindun sudah selalu memakai busana muslimah itu. Dia memang seorang muslimah taat dari keluarga taat. Meski mulai SD tidak belajar agama di madrasah, ketaatannya terhadap agama, seperti salat pada waktunya, puasa senin-kamis, salat Dhuha, dan sebagainya, tidak kalah dengan mereka yang dari kecil belajar agama. Apalagi setelah di perguruan tinggi: dia justru mendapat kesempatan untuk lebih aktif lagi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.
Dalam soal syariat agama, seperti banyak kaum muslimin kota yang sedang semangat-semangatnya berislam-ria, sikapnya tegas. Misalnya, bila dia melihat sesuatu yang menurut pemahamannya mungkar, dia tidak segan-segan menegur terang-terangan. Bila dia melihat kawan perempuannya yang muslimah-dia biasa memanggilnya ukhti-jilbabnya kurang rapat, misalnya, langsung dia akan menyemprotnya dengan lugas. Dia pernah menegur dosennya yang dilihatnya sedang minum dengan memegang gelas tangan kiri. "Bapak kan muslim, mestinya Bapak tahu soal tayammun," katanya. "Nabi kita menganjurkan untuk melakukan sesuatu  yang baik kita menggunakan tangan kanan". Dosen yang lain di tegur terang-terangan karena merokok. "merokok itu salah satu senjata setan untuk menyengsarakan anak Adam di dunia dan akhirat. Sebagai dosen, Bapak tidak pantas mencontohkan hal buruk seperti itu". Dia juga pernah menegur terang-terangan dosennya yang memelihara anjing. "Bapak tahu nggak? Bapak kan muslim?! Anjing itu najis dan malaikat tidak mau datang ke rumah orang yang ada anjingnya!"
Di samping ketaatan dan kelugasannya, apabila bicara tentang Islam, Hindun selalu bersemangat. Apalagi bila sudah berbicara soal kemungkaran dan kemaksiatan yang merajalela di tanah air atau soal bid'ah yang menurutnya banyak dilakukan oleh orang-orang Islam, wah, dia akan berkobar-kobar bagaikan banteng luka. Apalagi bila melihat atau mendengar ada orang Islam melakukan perbuatan yang menurutnya tidak rasional, langsung dia mencapnya sebagai klenik atau bahkan syirik yang harus diberantas. Dia pernah ikut mengkoordinir berbagai demonstrasi, seperti menuntut ditutupnya tempat-tempat maksiat; demonstrasi menentang sekolah yang melarang muridnya berjilbab; hingga demonstrasi menuntut diberlakukannya syariat Islam secara murni. Mungkin karena itulah, dia dijuluki kawan-kawannya si bidadari tangan besi. Dia tidak marah, tapi juga tidak kelihatan senang dijuluki begitu. Yang penting, menurutnya, orang Islam yang baik harus selalu menegakkan amar makruf nahi mungkar di mana pun berada. Harus membenci kaum yang ingkar dan nyeleweng dari relagama. Bagi Hindun, amar makruf nahi mungkar bukan saja merupakan bagian dari keimanan dan ketakwaan, tapi juga bagian dari juhad fi sabilillah. Karena itu dia biarkan saja kawan-kawannya menjulukinya bidadari bertangan besi.
Ketika beberapa lama kemudian dia menjadi istri kawanku, Mas Danu, ketaatannya kian bertambah, tapi kelugasan dan kebiasannya menegur terang-terangan agak berkurang. Mungkin ini disebabkan karena Mas Danu orangnya juga taat namun sabar dan lemah lembut. Mungkin dia sering melihat bagaimana Mas Danu, dengan kesabaran dan kelembutannya, justru lebih sering berhasil dalam melakukan amar makruf nahi mungkar. Banyak kawan mereka yang tadinya mursal, justru menjadi insaf dan baik oleh suaminya yang lembut itu. Bukan oleh dia.
bersambung......

Bukan Hanya Lafadz Bicara

Bismillahirrahmanirrahim

izinkan taj sharing sebuah artikel yah.. Silahkan dibaca

Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat. (Hamka)

Sememangnya cinta itu sering kali dikaitkan dengan keindahan, dan sering sahaja mengundang senyuman.

 Ada yang sanggup memperjuangkan cinta sehingga sanggup pula melepaskan yang dimiliki demi mengejar cinta.  Lihat sahaja paparan di media pada hari ini,  tataplah berita di kaca televisyen dan internet,  bacalah berita di akhbar dan majalah. 

Apa yang sering dikaitkan dengan keruntuhan nilai akhlak remaja?  Sudah pastilah kerana cinta yang diagung-agungkan sehingga sanggup pula lari dari rumah meninggalkan ibu bapa yang telah banyak berkorban.  Hanya kerana cinta,  manusia sering saja menghalalkan yang sudah termaktub haramnya.  Bukankah sejak di awal usia,  kita sering kali diberitahu bahawa penzinaan dan menghampiri zina itu tetap HARAM hukumnya?

Barang siapa yang cintakan sesuatu,  maka dia akan menjadi hamba kepada yang dicintainya. Barang siapa yang mencintai sesuatu,  maka dia banyak menyebutnya, mengingatinya,  dan memikirkannya (Ibnu Ata'illah – Kitab Al-Hikam )

Bukan salah cinta itu hadir dalam diri setiap manusia.  Tetapi salah manusia yang tidak pandai, tidak cekap menguruskan perasaan cinta yang hadir.  Benarkah cinta yang dirasakan jika kita sanggup mengetepikan cinta kita kepada Allah,  cinta kita kepada Rasul,  cinta kita kepada Islam, dan cinta kita kepada ibu bapa? 

Bukankah cinta itu jauh lebih mulia daripada cinta yang kita sanggup agung-agungkan.  Percayalah, setiap rasa cinta yang hadir sehingga kita mengetepikan soal halal dan haram itu tidak lebih sekadar cinta yang berajakan NAFSU.  Ya Allah,  jauhkanlah kami daripada mengulit mimpi indah dalam cinta yang semakin hari semakin menjauhkan kami daripadaMu.Tuntunlah hati ini untuk mengenali cintaMu,  mendahulukan cintaMu,  dan tidak menduakan cintaMu.

Mana mungkin rasa cinta ini,

ku curahkan untuk lelaki yang telah lupa,

Lupa pada cintanya pada pemilik cinta,

Mana mungkin rasa  cinta ini,

ku serahkan kepada lelaki yang kedekut,

Kedekut untuk mengucapkan ayat-ayat cintanya pada pemilik cinta,

Mana mungkin cinta ini,

ku amanahkan buat seorang lelaki yang culas,

Culas dalam melaksanakan amanah pemilik cinta,

Mana mungkin ku merasa bahagia,

Jika aku menjulang-julang peminjam cinta,

Tapi mengetepikan pemilik cinta.

Berkali kita diingatkan. Lahir sahaja di dunia, menjengah alam telah pun diazan dan diiqamahkan. Cinta kepada Allah,  adalah cinta yang agung dan suci.  Cinta yang sebenar-benarnya menuntut kesabaran,  ujian iman,  dan ketaqwaan.

 Cintailah Allah,  dan Allah akan memelihara cinta yang tersulam indah sesama manusia.

Allah swt berfirman: "Aku menurut sangkaan hamba kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila dia ingat kepada-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dan dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil." (Sahih Bukhari)